Main Menu

Visitor Counter

2195929
TodayToday4272
YesterdayYesterday5157
This_WeekThis_Week53710
This_MonthThis_Month100000
All_DaysAll_Days2195929
Your IP is :54.145.208.160

PRESIDEN OPTIMISTIS INDONESIA DAPAT LALUI GONCANGAN EKONOMI

Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis Indonesia dapat melalui goncangan ekonomi dengan selamat berdasar pengalaman sebelumnya. "Kita telah mengalami berulangkali. Kita optimis dapat melaluinya dengan selamat," kata Presiden Jokowi ketika menyampaikan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2015 pada Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI di Jakarta, Jumat (14/8).

Presiden menyebutkan sekarang ini siklus perekonomian global maupun nasional kurang menggembirakan, namun goncangan ekonomi seperti itu bukanlah yang pertama kali dirasakan masyarakat Indonesia.

Kepala Negara juga menyebutkan saat ini banyak masalah mendasar yang menuntut penyelesaian. Di bidang pangan, Indonesia belum mencapai kedaulatan pangan, rentan gagal panen dan mudah diterpa ketidakstabilan harga pangan.

Di bidang infrastruktur, moda transportasi massal di tiap wilayah masih sangat kurang dan belum terintegrasi dengan baik. Di bidang maritim, pencurian ikan dan penjarahan sumber daya laut menyebabkan kerugian negara sangat besar.

"Sedangkan untuk energi, kita masih menghadapi masalah ketersediaan tenaga listrik untuk menopang kehidupan warga dan pembangunan ekonomi. Ditambah lagi, produksi BBM masih defisit sekitar 600.000 barel per hari," tuturnya.

Presiden juga menyebutkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Sebagai bangsa yang besar, harus percaya diri, harus optimistis bahwa Indonesia dapat mengatasi segala persoalan yang menghadang.

"Selama ini kita terjebak pada pemahaman bahwa melambannya perekonomian global, yang berdampak pada perekonomian nasional adalah masalah paling utama. Padahal, kalau kita cermati lebih seksama, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, sekali lagi, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, juga berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa," ujarnya.

Menurut dia, menipisnya budaya saling menghargai, mengeringnya kultur tenggang rasa, baik di masyarakat maupun institusi resmi seperti lembaga penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, media dan partai politik, menyebabkan bangsa ini terjebak pada lingkaran ego masing-masing.

Hal itu tentu saja menghambat program aksi pembangunan, budaya kerja, semangat gotong royong dan tumbuhnya karakter bangsa. Lebih-lebih, saat ini ada kecenderungan semua orang merasa bebas, sebebas-bebasnya, dalam berperilaku dan menyuarakan kepentingan.

Keadaan itu menjadi semakin kurang produktif ketika media juga hanya mengejar rating dibandingkan memandu publik untuk meneguhkan nilai-nilai keutamaan dan budaya kerja produktif. Masyarakat mudah terjebak pada `histeria publik’ dalam merespon suatu persoalan, khususnya menyangkut isu-isu yang berdimensi sensasional.

"Tanpa kesantunan politik, tatakrama hukum dan ketatanegaraan, serta kedisiplinan ekonomi, kita akan kehilangan optimisme, dan lamban mengatasi persoalan-persoalan lain termasuk tantangan ekonomi yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia. Kita akan miskin tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara," tukasnya.

InfoBPD/ant

Foto: ist

 

Mini Calendar

March 2017
SMTWTFS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031

Asbanda Banner